Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Pergerakan Langka dan Berbahaya Siklon Tropis Senyar di Atas Pulau Sumatera
Tanggal 27 November 2025
Surat Kabar Kompas
Halaman 8
Kata Kunci Bencana alam
AKD - Komisi V
Isi Artikel

Siklon tropis Senyar yang terbentuk di Selat Malaka kini bergerak ke pesisir dan berpotensi mendarat di wilayah Aceh.

Oleh Ahmad Arif

Indonesia tidak lagi aman dari lintasan siklon tropis. Kemunculan bibit siklon tropis 95B di Selat Malaka sejak 21 November 2025 telah memicu cuaca ekstrem dan bencana banjir serta longsor di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Bencana lebih besar berpotensi terjadi seiring menguatnya sistem tekanan rendah ini sehingga menjadi siklon tropis.

Bibit siklon yang kini telah menjadi siklon tropis Senyar kini bergerak mendekati pesisir Aceh. Hingga beberapa hari ke depan, siklon tropis ini diprediksi bakal bergerak di atas wilayah daratan Aceh dan Sumatera Utara.

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, banjir dan longsor melanda empat kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, yaitu Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan pada Senin dan Selasa (24-25/11/2025). Bencana kali ini telah menewaskan delapan orang, 58 luka-luka, dan ribuan orang mengungsi.

Hujan lebat juga memicu di tujuh kecamatan di Kabupaten Aceh Utara. Pemerintah setempat telah menetapkan status siaga darurat melalui Keputusan Bupati Aceh Utara Nomor 360/845/2025 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Aceh Utara Tahun 2025, terhitung mulai 23 November 2025 sampai dengan 15 Januari 2026.

 

 

Pergerakan siklon tropis Senyar pada Rabu (26/11) mendekati pesisir Aceh.
 

BMKG

Pergerakan siklon tropis Senyar pada Rabu (26/11) mendekati pesisir Aceh.

Ancaman bencana yang terjadi di bagian utara Pulau Sumatera ini membesar setelah bibit siklon 95B menjadi siklon. ”Berdasarkan analisis atmosfer per 26 November 2025 pukul 07.00 WIB, sistem tersebut (95B) telah mengalami intensifikasi dan resmi berstatus sebagai siklon tropis Senyar, yang saat ini terpantau berada di perairan Selat Malaka bagian timur Aceh,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, Rabu.

Analisis BMKG menunjukkan, siklon tropis Senyar saat ini terpusat di sekitar 5 Lintang Utara dan 98 Bujur Timur, dengan tekanan udara minimum di pusat mencapai sekitar 998 hPa. Kecepatan angin maksimum di sekitar sistem dapat mencapai hingga 43 knot (80 km/jam). Sejak 6 jam terakhir, siklon ini bergerak ke arah barat menuju wilayah daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km/jam dan memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif di wilayah sekitarnya.

Dampak sistem terhadap kondisi cuaca di Aceh dan Sumatera Utara diprediksi signifikan, dengan potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang. Awan hujan yang terbentuk semakin intensif dipengaruhi oleh suplai uap air di perairan hangat Selat Malaka serta peningkatan konvergensi angin di bagian utara Sumatera.

”Dalam 6 jam ke depan, siklon tropis Senyar diprediksi terus bergerak mendekati pesisir Aceh dan memiliki kemungkinan melakukan pendaratan (landfall),” sebut Fathani.

Direktur Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengkhawatirkan, pergerakan siklon tropis Senyar ini akan berdampak signifikan terhadap meningkatnya ancaman bencana karena melintasi daratan. Sebagai lazimnya, kemunculan siklon tropis akan memicu hujan lebat di wilayah sekitar yang dilintasi.

”Pantauan data AWS (Automatic Water Station) BMKG, hingga Rabu (26/11/2025) dini hari tadi pukul 03.00 WIB, beberapa lokasi di Aceh sudah mengalami hujan ekstrem, dengan intensitas di atas 150 mm per hari,” kata Andri.

Dalam 6-24 jam ke depan, siklon ini diperkirakan akan terus bergerak ke arah barat-barat daya. Setelah berinteraksi dengan daratan, sistem diperkirakan akan melemah secara bertahap.

Namun, cuaca ekstrem tetap berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat, dan sekitarnya sekitar 2-3 hari ke depan.

Memanasnya lautan

Peneliti iklim BMKG Siswanto mengatakan, siklon tropis ini merupakan fenomena langka karena melintasi daratan Indonesia. ”Ini (siklon tropis Senyar) merupakan fenomena langka, tapi bukan satu-satunya sistem tropis yang pernah memengaruhi wilayah ini,” katanya.

 

Menurut Siswanto, pada tahun 2001 pernah muncul siklon tropis Vamei yang memicu bencana banjir dan longsor di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Berikutnya, juga pernah terjadi siklon tropis Viyaru pada 2013, yang berdampak hujan ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara.

 

<p>infografik Peringatan Badai Siklon Tropis dan Cuaca Dimas</p>

”Dibandingkan dengan siklon tropis lain di sekitar Sumatera, siklon Senyar memiliki intensitas lebih lemah, tetapi tetap signifikan karena jalurnya melintasi daratan menyeberangi Sumatera bagian utara,” kata Siswanto.

 

Sesuai dengan hukum alam, Indonesia seharusnya aman dari lintasan siklon tropis. Siklon dipengaruhi oleh efek Coriolis, diambil dari nama pencetusnya, ahli matematika Perancis, Gaspard Gustave de Coriolis. Efek Coriolis menyebabkan setiap benda yang bergerak di planet yang terus berotasi ini berbelok ke kanan atau searah jarum jam di belahan bumi utara dan ke kiri atau berlawanan arah jarum jam di belahan bumi selatan.

 

Efek Coriolis ini nilainya melemah, bahkan hampir nol jika mendekati ekuator. Hal ini menyebabkan tidak ada efek Coriolis di tepat garis khatulistiwa dan dalam teori dinamika fluida atmosfer tidak akan terjadi efek puntiran pada gerak angin, seperti siklon di atas khatulistiwa.

Karena efek Coriolis ini, siklon tropis umumnya terbentuk di garis lintang tinggi, di atas 10 derajat. Di sisi lain, siklon tropis mendapatkan energinya melalui penguapan air dari permukaan laut dalam jumlah besar yang akan melepaskan panas sehingga menciptakan konveksi atau udara naik. Ini hanya terjadi di perairan hangat, minimal suhu air laut harus 26 derajat celsius hingga di kedalaman 50 meter.

Berdasarkan parameter ini, sumber pusat pembentukan siklon tropis biasanya di zona tepi khatulistiwa yang lebih hangat dari perairan sekitarnya dan kemudian bergerak ke lintang lebih tinggi lagi, baik ke selatan maupun utara. Hal ini menyebabkan sejumlah negara, seperti Filipina, Taiwan, Jepang, atau Vietnam, menjadi langganan pelintasan siklon tropis, sedangkan Indonesia cenderung aman dari pelintasannya.

Infografik Siklon Tropis di Sekitar Indonesia

Meski demikian, kemunculan Senyar dan sebelumnya Vamei menunjukkan wilayah Sumatera bagian utara juga berisiko dilalui siklon tropis. Sebelumnya, Indonesia juga pernah dilalui siklon Seroja pada April 2021, yang memicu kehancuran di Nusa Teggara Timur.

Menghangatnya perairan laut menjadi bahan bakar yang meningkatkan risiko terbentuknya siklon tropis di dekat daratan Indonesia. Siswanto mengatakan, terbentuknya siklon tropis di Selat Malaka pada November 2025 juga disebabkan oleh kondisi laut yang lebih hangat dari normal.

”Suhu permukaan laut (SST) sekitar 29–30 derajat celsius di Selat Malaka mendukung konveksi mendalam dan penguatan sistem tropis. Kondisi laut saat itu relatif hangat, lebih tinggi dari rata-rata klimatologis, sehingga menyediakan energi laten untuk pertumbuhan sistem tropis,” kata Siswanto.

Jika ditinjau perbandingannya dengan beberapa siklon tropis yang berkembang di wilayah Indonesia, siklon tropis Senyar berbeda karena jalurnya menyeberangi daratan Sumatera, bukan hanya memengaruhi dari laut. Siklon Vamei (2001) dan Viyaru (2013), dan kini Senyar, menunjukkan bahwa sistem tropis bisa terbentuk atau mendekat di lintang rendah dekat Sumatera, meski jarang.

”Secara historis, tren suhu permukaan laut di Selat Malaka menunjukkan peningkatan bertahap sejak awal 1980-an, sejalan dengan pemanasan global dan pengaruh variabilitas iklim regional,” kata Siswanto.

Dengan tren kenaikan suhu lautan ini, Indonesia yang sebelumnya dianggap cenderung aman dari ancaman langsung siklon tropis kini menjadi lebih berisiko.

 
  Kembali ke sebelumnya